Pikun itu Apa sih?

Nek, dulu gimana ceritanya saat pertama kali bertemu dengan Kakek?

Lalu mengalirlah cerita manis yang selalu membuat almarhumah Nenek tersenyum berseri saat menceritakannya….


Hampir 6 tahun Nenek meninggalkan kami anak cucunya tapi saya masih selalu mengingat hari-hari bersamanya, setahun sekali berkunjung ke tempat beliau. Bagaimana saya menggodanya dengan cerita-cerita yang saya sudah hafal dan juga tahu cerita mana yang membuat dia tersenyum, cerita mana yang membuat dia marah kesal. 


Kadang Mama bertanya, apa sih kamu nanya itu-itu melulu? Dan saya menjawabnya, karena dari cerita-cerita itu saya bisa mengenal Kakek yang tidak pernah saya bertemu dan hanya mengenalnya melalui foto dan cerita manis dari Nenek. 


Di tahun-tahun terakhirnya, Nenek mengalami apa yang disebut pikun. Dia masih ingat masa-masa mudanya, masih bisa shalat dan mengaji tapi terkadang lupa dengan resep makanan (pekerjaan yang dikerjakan sejak dia muda sampai usia tuanya). Alhamdulillah dia gak lupa dengan cucunya yang satu ini ya, hehehe.


Berdasarkan pengalaman ini, saya sangat hati-hati menghadapi ayah saya yang sudah berusia di atas 70 tahun. Tidak lagi saya membiarkan beliau pergi sendiri mengendarai kendaraan kecuali ke tempat yang dekat. Membiarkannya melakukan aktifitas yang biasa dia lakukan tanpa saya ganggu. 


Kesannya mungkin saya anak yang gak peduli saat melihat ayah saya melakukan ‘satu dua kegiatan rumah tangga’. Tapi sebenarnya saya membiarkan dia membiasakan diri dengan aktifitas agar tidak mudah pikun. Tentunya dia sering lupa ini itu, tapi itu kami jadikan sesuatu yang lucu saja dan kesempatan untuk menggodanya.


Kadang beliau lupa mengunci pintu, lain waktu dia lupa mematikan air. Kadang saya suka mengetes daya ingat beliau dengan sesuatu yang rumit. Memang sampai saat ini kami tidak pernah memeriksakan keadaan beliau ke dokter khusus, alhamdulillah semua masih terkendali. Ibadah dan kegiatan membaca Al-Qur’an pun masih dilakukan. Ayat-ayat panjang yang dihafalnya kadang membuat saya malu karena  hafalan saya tidak sebanyak beliau.


Disaat ditawarkan mengikuti acara webinar tentang pikun, sesuatu yang berhubungan dengan keseharian saya. Tentunya saya senang sekali. Berikut akan saya tulis beberapa hal yang menurut saya layak untuk dibagikan kembali agar lebih banyak orang yang memahaminya.


Pikun bukan sesuatu yang menakutkan bagi kita caretaker (yang menjaga orang sakit). Asalkan kita tahu bagaimana dan apa yang harus dilakukan, Insya Allah kehidupan bisa tetap dilaksanakan bagaimana adanya. 


Demensia adalah suatu sindrom gangguan penurunan fungsi otak yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif, emosi, daya ingat, perilaku dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. 


Masyarakat kerap kali menyebut kondisi tersebut sebagai pikun. Pikun sering dianggap sebagai hal normal yang dialami oleh lansia, sehingga seringkali penyakit tersebut tidak terdeteksi. 


Berdasarkan data dari Alzheimer’s Disease International dan WHO, terdapat lebih dari 50 juta orang di dunia mengalami demensia dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Dari banyaknya kasus tersebut, Alzheimer menyumbang 60-70% kasus. 


Oleh karena itu, deteksi dini dapat membantu penderita demensia dan keluarganya untuk dapat menghadapi dampak penurunan fungsi kognitif dan pengaruh psiko-sosial dari penyakit ini dengan lebih baik. Selain itu penanganan demensia sejak dini juga penting untuk mengurangi percepatan kepikunan. 


Bahasan dr. S.B. Rianawati, Sp.S(K) - Pokdi Neurobehaviour Cabang Malang


Apa itu Pikun?

  • Pikun adalah ketika seseorang butuh waktu lebih lama untuk mengingat atau lupa dengan apa yang mereka lakukan sebelumnya

  • Menurunnya kemampuan untuk berpikir pada otak seseorang

  • Dalam dunia medis disebut Demensia 


Apakah bedanya Pikun dan Pelupa




Mengenali Gejala Pikun

  1. Gangguan daya ingat atau sering lupa

  2. Disorientasi, bingung akan waktu (hari,tanggal), tidak tahu jalan pulang

  3. Menarik diri dari pergaulan

  4. Perubahan perilaku dan kepribadian

  5. Sulit melakukan pekerjaan yang familier seperti sulit menyelesaikan pekerjaan sehari-hari, cara mengemudi, dan mengatur keuangan

  6. Kesulitan memahami visuospatial-sulit mengukur jarak, tidak dapat membedakan warna

  7. Sulit fokus

  8. Gangguan berkomunikasi, kesulitan berbicara

  9. Salah membuat keputusan

  10. Menaruh barang tidak pada tempatnya


Siapa yang beresiko terkena Alzheimer?

  1. Usia lanjut

  2. Diabetes Melitus tidak terkendali

  3. Hipertensi

  4. Stroke dan penyakit jantung koroner

  5. Kadar lemak tidak normal

  6. Obesitas (kegemukan)

  7. Disfungsi Thyroid

  8. Depresi

  9. Kekurangan vitamin B12

  10. Keturunan

  11. Merokok

  12. Kurang olahraga

  13. Pengaruh obat-obatan


Tujuan dari mengobati pikun adalah untuk meringankan gejala, memperlambat perkembangan penyakit, membuat penderita dapat hidup semandiri mungkin.


Penanganan orang yang mengalami pikun dapat dilakukan dengan:

  • Mengatasi penyebab pikun - disebabkan tumor otak maka dilakukan operasi dan kemoterapi; disebabkan kurang nutrisi maka akan diberikan makanan bergizi seimbang dan meresepkan suplemen 

  • Memberikan obat-obatan - untuk memperbaiki gejala pikun dan meningkatkan fungsi otak 

  • Terapi stimulasi kognitif - memperbaiki fungsi kognitif, efektif meningkatkan kualitas hidup, berolahraga atau permainan fisik, bermain kata atau angka, membaca buku cerita, menggambar, mewarnai, membuat karya seni, memasak dan berkreasi

  • Memberikan perawatan paliatif, saat keadaan yang sudah parah (misalnya kanker stadium akhir dengan demensia), dapat meningkatkan kualitas hidup di sisa umurnya, mengurangi rasa sakit dan membina kondisi psikisnya, dengan konseling dan dukungan dari teman dan keluarga


Cara pencegahan pikun





Bahasan Dr. dr. Junita Maja Pertiwi, Sp.S(K) - Kelompok Neurobehaviour PERDOSSI (Perhimpunan DOkter Spesialis Saraf Indonesia) : Demensia di Masa Pandemi COVID-19


Gangguan kognitif dan perilaku, berupa gangguan daya kenal:

  1. Atensi

  2. Konsentrasi

  3. Memori

  4. Bahasa

  5. Orientasi

  6. Berpikir abstrak

  7. Menilai diri sendiri

  8. Berperilaku

  9. berwawasan/pengertian


Gangguan perilaku demensia:

  • Melihat sesuatu tetapi tanpa realita/ delusi

  • Senang berlebihan tanpa alasan/eforia

  • Perilaku yang menyimpang

  • Gelisah, mudah marah

  • Halusinasi

  • Depresi

  • Apatis

  • Cemas

Dampak pandemi COVID-19 pada orang dengan demensia:

  • Terpapar COVID-19

  • Menjadi pasien COVID-19

  • Depresi

  • Perburukan kognitif

  • Perburukan perilaku

  • Perburukan penyakit penyerta


Faktor internal dampak pandemi COVID-19 pada orang dengan demensia:

  • Komunikasi verbal berkurang

  • Relasi keluarga berkurang

  • Proses berpikir terganggu

  • Perawatan diri terganggu

  • Kebersihan diri terganggu

  • Ketidakseimbangan nutrisi

  • Risiko cedera

  • Risiko infeksi

  • Inkontinensia

  • Konstipasi


Dampak pandemi COVID-19 pada Caregivers:

  • Adaptasi

  • Menjaga diri

  • Menjaga kebersihan

  • Menjaga jarak

  • Menjaga hati

  • Menghindari kelelahan

  • Menghindari stress

  • Menyadari keadaan

Komunikasi kepada orang dengan demensia dapat dilakukan dengan terapi musik, menganggap mereka sebagai anak bungsu, berasumsi sebagai ticket to happiness, mencari bakat tersembunyi, dengan menggunakan binatang peliharaan, sebagai seseorang di hati, dan dengan menyanyikan/memutarkan lagu kesayangan.


Strategi dan Tips Hidup Caregivers dengan Orang Dengan Demensia

  • Saat kita dianggap pengganggu, maka bersabar dan mengalah

  • Saat drama menjadi nyata, maka bantulah menyelesaikan drama

  • Saat mereka takut akan malam hari, beri bantuan

  • Saat mereka merasa asing saat bercermin, maka hindari pemasangan cermin

  • Saat mereka mudah berubah pikiran, jangan kita memaksa

  • Saat mereka dalam keadaan momen normal, masuklah ke dunianya



Bulan September diperingati sebagai Alzheimer’s Awareness Month. Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia merupakan bagian dari  Program Kampanye Edukatif #ObatiPikun yang diadakan oleh PT Eisai Indonesia dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI).


Dalam kesempatan ini diperkenalkan sebuah aplikasi deteksi dini Demensia Alzheimer bernama aplikasi E-Memory Screening (EMS). Melalui Aplikasi EMS ini diharapkan semakin banyak masyarakat yang mengetahui gejala awal Demensia Alzheimer dan juga bagaimana penanganannya.


Aplikasi E-MS resmi diluncurkan pada tanggal 20 September 2020 dan dapat diunduh dengan mudah oleh dokter dan masyarakat awam di Playstore dan Appstore


Aplikasi E-MS ini akan menilai kondisi memori seseorang dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan terkait Demensia Alzheimer yang mungkin dialami oleh pengguna aplikasi. Setelah itu, Aplikasi E-MS akan memberikan skor dan apabila skor tersebut menunjukkan kondisi abnormal, maka aplikasi ini akan menyediakan fitur direktori rujukan terpercaya kepada dokter di sekitar pengguna aplikasi berdasarkan GPS termasuk informasi jarak, nama dokter beserta keahliannya di bidang Demensia Alzheimer, serta nomor call center RS yang dapat dihubungi. 


Selain deteksi dini, aplikasi ini juga menyediakan ragam informasi terpercaya dan akurat mengenai Demensia Alzheimer dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Aplikasi ini juga menyediakan tips dan trik dalam merawat Orang Dengan Demensia (ODD) secara efektif dan efisien.

Comments

Popular posts