Roma - Kota yang Nyaman Bagi Orang Muslim


- Banyak jalan menuju Roma

Salah satu ungkapan yang sering kita dengar untuk menunjukkan bagaimana kehebatan kota ini sejak masa lalu.
Bulan Oktober ini saya berkesempatan mengunjungi lagi kota ini setelah yang pertama di tahun 1995. Kunjungan pertama, saya masih remaja (ahem..) dan skrng 19 tahun kemudian, saya sudah menggunakan hijab, ada sedikit ketakutan yang membayangi sebelum keberangkatan ini.
Salah satu sahabat mengatakan, ‘ gak takut dengan diskriminasi disana?’, dan sayapun mengatakan ‘ah, gak koq, di Eropa gak kaya gitu’. Walaupun dalam hati, jujur saya hanya menutupi segala kerisauan yang ada.
Mungkin, jika hanya liburan 2-3 hari ini tidak menjadi masalah. Hanya saja, kali ini saya berkunjung ke kota ini hingga 1 bulan. Wow! Lama banget kan? Saya juga tidak tinggal di pusat kota tempat para turis biasa menginap.
Kali ini, saya tinggal bersama adik dan suaminya yang juga orang Italia. Saya tinggal di daerah perumahan, sekitar 30 menit menggunakan transportasi umum.  Suatu daerah dimana kebanyakan dihuni oleh penduduk asli dari sini, walau beberapa kali saya sempat berpapasan dengan penduduk asing yang dapat dilihat dari kulit dan gaya bahasa mereka. Walaupun mereka berbahasa Itali, tetapi tetap saja logat dan cara mereka berbicara masih menunjukkan dialek asli mereka.
Seminggu berada di kota ini, apakah kesan saya sebagai seorang muslimah yang berhijab?
Rome as a moslem – friendly city

Iya, Roma sebagai kota yang nyaman untuk muslim. Walau saya menggunakan hijab, tidak pernah saya berpapasan dengan orang yang terkesan melecehkan. Beberapa kesempatan saya bertemu dengan orang – orang yang mengapresiasi dengan kata – kata yang membuat bahagia.
Sehari – hari disini saya menggunakan transportasi umum, sehingga tidak ada yang mengira kalau saya sebenarnya turis. Sehari – hari juga saya menebar senyum kepada mereka saat berpapasan karena penduduk disini yang murah senyum.
Bukan hanya yang tua tetapi juga yang muda. Bukan hanya perempuan tetapi juga lelaki. Kalau saja saya bisa berbahasa Itali, mungkin saya bisa ngobrol dengan mereka saat di dalam bis. Bahasa itali saya juga pas – pasan sekedar untuk menanyakan hal – hal penting.
Soal makanan, mungkin agak susah dikarenakan penduduk disini suka memakan prosciutto – lembaran daging babi yang diawetkan. Tetapi dengan menggunakan hijab, mereka juga mengetahui apa batasan saya sehingga saat memesan makanan, mereka dengan sopan menjelaskan tentang kandungan apa saja yang ada di dalam makanan tersebut. Tentunya dengan bahasa Itali yang mana saya sudah tahu, kalau mereka menyebut mayala/mayale adalah daging babi.
Begitu juga saat membeli kue – kue disini yang menggoda selera, saya selalu bertanya apakah ada kandungan alkohol di dalamnya, lagi – lagi mereka menjelaskan tentang apa saja di dalam kue tersebut dengan rinci.
Mencari makanan halal di daerah pemukiman tidak segampang di tengah kota. Di Termini – stasiun terbesar di kota ini, makanan India/Turki halal dapat ditemukan di setiap sisi dengan harga yang sangat terjangkau (dibandingkan dengan restoran Itali). Cuma ya itu, pilihan makanan Itali sangat terbatas, kebanyakan menu berasal dari negara si penjual makanan.
Membeli daging halal pun tidaklah susah. Ada suatu pasar bernama Esquilino Market (Mercato Esquilino), hanya dengan berjalan kaki dari Termini sekitar 5-10 menit. Di pasar ini dapat ditemukan beberapa penjual daging halal. Selain daging sapi, ada daging kambing dan juga ayam. Tips : coba cek beberapa toko yang ada untuk mendapatkan harga yang pantas, karena kemarin saya langsung beli tanpa cek harga dan ternyata kemahalan menurut adik saya.
Moschea – mesjid dalam bahasa Itali. Terdapat satu mesjid besar disini yang berdiri sejak tahun 1995 dan menjadi pusat aktivitas para penganut agama islam. Saya sempat shalat disini saat Idul Adha lalu, tempatnya berada dekat dari kota, dapat dijangkau menggunakan bus dan kereta. Tempat ini juga dekat dengan pusat stadium olahraga.
Katanya, tiap hari Jumat, di depan mesjid ini banyak para penjual yang menjual dagangan seperti makanan, daging dan barang – barang keperluan sehari – hari. Begitupun saat shalat Ied lalu. Menjadi suatu keramaian tersendiri dan tempat berkumpulnya para muslim dari berbagai negara.
Para imigran muslim disini  kebanyakan berasal dari negara – negara di Asia Selatan (India, Bangladesh, Pakistan, Srilanka), Afrika Utara (Maroko, Tunisia, Mesir) dan juga Arab (Syria, Lebanon). Saat di jalan dan berpapasan dengan mereka, siap – siap saja untuk ditegur dengan ucapan “assalamu’alaikum”. Bahkan jika berbelanja di toko mereka, dengan senang hati mendapat potongan harga (mungkin nilainya kecil dalam Euro, tapi jika di Rupiahkan, lumayan juga).
Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.  Peribahasa ini selalu saya gunakan dimana saya berada. Dengan menghargai orang lain, sebagaimana kita ingin dihargai, maka kita bisa hidup dengan tenang dimanapun juga.
Ciao... 
suasana sehabis shalat Ied di Moschea di Roma (Rome Grand Mosque)



Comments

  1. Aku jadi bayangin Acha di film 99 Cahaya di Atas Langit Eropa, nih. Selamat berlibur, ya, Mak. Seneng deh kayaknya bisa jalan-jalan di sana. Ketemu pemaen bola, dong, Mak? Eh ada Erick Thohir dolan ke sana juga, ga? hehehe

    ReplyDelete
  2. Menyenangkan sekali jika bepegian ke negara-negara yang ramah semacam, itu. sering kali, jika terjadi pelecehan lebih kepada oknum sih.

    ReplyDelete
  3. Satu bulan tinggal, wew puas dong. Nggak coba berkunjung ke Kompleks Basilika Paus...

    ReplyDelete
  4. kebayang disenyumin sama orang itali,bikin mau senyum terus dong ka..hihi,senyum itu ibadah #iyakan

    ReplyDelete
  5. Mantep banget sebulan tinggal disana

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, dan skrng mengalami post vacation syndrome,:(

      Delete
  6. Jadi pengen jalan-jalan kesana, tapi kayanya kudu nabung ekstra keras deh.

    ReplyDelete
  7. Assalamu'alaykum.
    blognya bagus nih, bahas Roma. Kota yang pengen aku tuju setelah Mekkah dan Medinah.
    Apalagi bahas mengenai kehidupan muslim disana beserta makanan halal disana. Mantep. (*sayang sepi, padahal penggemar Serie A juga banyak di Indonesia).
    Bytheway, habis berapa euro itu hidup disana? tulis lagi donk mbak review-nya untuk biaya keseluruhan selama sebulan itu. kalo mbak Yunika lagi ada waktu luang.

    Makasih ya :)

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts